Aku
benar-benar seperti mendamba purnama, Disaat gelapnya malam menyentuh gulita
dan disaat pendar cahaya meredup seolah tiada.
Disaat
itu pula kurasa detik dari detak suara jam yang mengiris sepi, kembali menyiksa
hati yang terisi sunyi.
Sentuh
aku, dalam bayangan semu yang kaku, berkali kucoba menjadikan mimpiku nyata,
namun apadaya semua hanya bayang semata.
Adakah
senyum manis yang bisa meleleh bersama sebuah tawa yang membuat hangat
dinginnya malam?
Biarkanlah aku merindumu dalam seduhan kopi hitam tanpa gula.
@yudhantriyana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar