Selamat Hari Tuberkulosis Dunia, semoga pemberantasan TB semakin digalakan, dan infeksi TB bisa ditekan bahkan dihilangkan.
terus, apa TB Itu?
Tuberkulosis (TB) adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. TB biasanya berpengaruh pada paru, tetapi juga dapat berdampak pada organ lain, terutama pada Odha dengan jumlah CD4 di bawah 200.
TB adalah penyakit yang sangat berat di seluruh dunia. Hampir sepertiga penduduk dunia, dan sepertiga Odha terinfeksi TB. Sistem kekebalan tubuh
yang sehat biasanya dapat mencegah penyakit aktif. TB adalah penyebab
kematian yang besar untuk Odha di seluruh dunia, menurut WHO.
Nama tuberkulosis berasal dari tuberkel.
Tuberkel adalah tonjolan kecil dan keras yang terbentuk waktu sistem
kekebalan membangun tembok mengelilingi bakteri TB dalam paru. Infeksi
ini disebut TB paru. Infeksi dapat menyebar dari paru ke ginjal, tulang
belakang dan otak. Infeksi ini disebut TB luar paru. TB luar paru
ditemukan pada orang yang sudah terinfeksi TB tetapi belum diobati. Odha
yang tinggal di daerah rawan TB dapat mengembangkan TB luar paru.
TB aktif di paru dapat menyebabkan batuk selama tiga minggu atau lebih, kehilangan berat badan, kelelahan terus-menerus, keringat basah kuyup pada malam, dan demam, terutama pada sore hari. Gejala ini mirip dengan gejala yang disebabkan PCP.
Gejala ini dapat berbeda bila TB juga terjadi di bagian tubuh lain.
Bila Odha dengan TB mengalami gejala tanpa alasan jelas, sebaiknya
disampingkan penyakit TB aktif.
TB menular melalui udara, waktu seseorang dengan TB aktif pada paru
batuk, bersin atau bicara. Sinar ultraviolet dalam cahaya matahari dapat
mematikan TB. Ventilasi yang baik mengurangi risiko infeksi TB. Namun
orang yang tinggal dekat dengan orang dengan TB aktif mudah terinfeksi.
Hal ini terutama mungkin bila kita pada tahap infeksi HIV lanjut. Kita
dapat terinfeksi TB pada jumlah CD4 berapa pun.
TB dan HIV: Pasangan yang Buruk
Banyak jenis virus
dan bakteri hidup di tubuh kita. Sistem kekebalan tubuh yang sehat
dapat mengendalikan kuman ini agar mereka tidak menyebabkan penyakit.
Jika HIV melemahkan sistem kekebalan, kuman ini dapat mengakibatkan infeksi oportunistik (IO).
Angka TB pada Odha sering kali 40 kali lebih tinggi dibanding angka
untuk orang yang tidak terinfeksi HIV. Angka TB di seluruh dunia
meningkat karena HIV.
TB dapat merangsang HIV agar lebih cepat menggandakan diri,
mengurangi jumlah CD4 dan memburukkan infeksi HIV. Karena itu, penting
agar orang dengan HIV mencegah dan mengobati TB.
Bagaimana TB Didiagnosis?
Ada tes kulit yang sederhana untuk TB. Sebuah protein
yang ditemukan pada bakteri TB disuntik pada kulit lengan. Jika kulit
kita bereaksi dengan bengkak, itu berarti kita kemungkinan terinfeksi
bakteri TB. Hasil tes kulit yang positif bukan berarti kita TB aktif.
Jika HIV atau penyakit lain sudah merusak sistem kekebalan kita, kita
mungkin tidak menunjukkan reaksi pada tes kulit, walaupun kita
terinfeksi TB. Kondisi ini disebut ‘anergi’.
Oleh karena masalah ini, dan karena kebanyakan orang di Indonesia sudah
terinfeksi TB, jadi tes kulit sekarang jarang dipakai di sini. Jika
kita anergi, pembiakan bakteri dari dahak (lihat alinea berikut) adalah
cara terbaik untuk diagnosis TB aktif.
Bila kita mempunyai gejala yang mungkin disebabkan oleh TB, dokter
akan minta kita menyediakan tiga contoh dahak untuk diperiksa, termasuk
satu yang diminta dikeluarkan dari paru pada pagi hari. Dokter juga
mungkin melakukan rontgen dada. Dokter juga akan coba membiakkan bakteri
TB dari contoh dahak atau cairan yang diambil dari bagian tubuh lain
yang dapat mengena TB. Tes ini dapat memerlukan jangka waktu dua sampai
empat minggu, tergantung pada cara yang dilakukan. Sulit mendiagnosis TB
aktif, terutama pada Odha, karena tampaknya mirip dengan pneumonia,
masalah paru lain, atau infeksi lain, dan juga dapat terjadi di luar
paru. Namun tes baru yang lebih cepat sedang dikembangkan.
Bagaimana TB Diobati?
Jika kita terinfeksi TB, tetapi tidak mengalami penyakit aktif,
kemungkinan kita diobati dengan isoniazid (INH) untuk sedikitnya enam
bulan, atau dengan INH plus satu atau dua obat lain untuk tiga bulan.
INH dapat menyebabkan masalah hati, terutama pada perempuan. Sebuah
penelitian pada 2001 menunjukkan bahwa penggunaan INH bersamaan dengan
rifapentin seminggu sekali selama tiga bulan sama efektif. CDC-AS
sekarang mengusulkan terapi jangka lebih pendek ini. Sayangnya
rifapentin berinteraksi dengan beberapa protease inhibitor. Penyesuaian takaran mungkin dibutuhkan, tetapi belum diteliti.
Jika kita mengalami TB aktif, kita diobati dengan antibiotik.
Karena bakteri TB dapat menjadi kebal (resistan) terhadap obat tunggal,
kita akan diberi kombinasi antibiotik. Obat TB harus dipakai untuk
sedikitnya enam bulan, tetapi kebanyakan kasus TB dapat disembuhkan
dengan antibiotik yang ada. Jika kita tidak memakai semua obat, TB dalam
tubuh kita mungkin jadi resistan dan obat tersebut akan menjadi tidak
efektif lagi.
Ada jenis TB yang resistan
terhadap beberapa antibiotik. Ini disebut TB yang resistan terhadap
beberapa obat atau MDR-TB, atau yang resistan terhadap semua obat lini
pertama dan kedua (XDR-TB). Jenis TB ini jauh lebih sulit diobati. Lebih
banyak jenis obat harus dipakai untuk jangka waktu yang lebih lama.
Angka kesembuhan lebih rendah dibandingkan TB yang lazim. Untuk pertama
kali selama 40 tahun terakhir, FDA-AS baru saja menyetujui obat baru
untuk TB. Obat tersebut, bedakwilin, adalah efektif terhadap TB yang
resistan terhadap obat lain.
Masalah Obat
Beberapa antibiotik yang dipakai untuk mengobati TB dapat merusak hati atau ginjal. Begitu juga beberapa obat antiretroviral (ARV). Bisa jadi sulit untuk memakai obat TB dan ARV sekaligus. INH dapat menyebabkan neuropati perifer, seperti juga beberapa ARV, jadi dapat terjadi masalah bila obat ini dipakai bersama. Pengobatan TB juga dapat menyebabkan sindrom pemulihan kekebalan .
Juga, banyak ARV berinteraksi dengan obat yang dipakai untuk memerangi TB. Rifampisin umumnya dipakai
untuk mengobati TB. Obat ini dapat mengurangi tingkat ARV dalam darah
kita di bawah tingkat yang diperlukan untuk mengendalikan HIV. ARV dapat
meningkatkan tingkat obat TB ini sehingga mengakibatkan efek samping yang berat.
Rifampisin tidak boleh dipakai jika kita memakai kebanyakan protease inhibitor (PI) atau NNRTI. Ada pedoman khusus untuk dokter jika kita memakai obat untuk memerangi TB dan HIV sekaligus.
Untuk alasan ini, lebih baik TB diobati sebelum terapi ARV (ART)
dimulai. Namun bila jumlah CD4 di bawah 350, ART sebaiknya dimulai
segera setelah efek samping obat TB sudah hilang.
Garis Dasar
TB adalah penyakit berat dan membunuh lebih banyak Odha dibanding dengan semua penyakit lain. TB dan HIV saling memburukkan.
Ada pengobatan efektif untuk infeksi TB, dan untuk penyakit TB aktif.
Jika kita pernah dekat dengan orang TB aktif, atau mempunyai gejala TB,
sebaiknya kita segera dites dan diobati.
Pengobatan untuk TB perlu jangka waktu yang lama, dan dapat sulit
dipakai sekaligus dengan ARV, tetapi obat tersebut dapat menyembuhkan
TB. Beberapa obat TB dapat berinteraksi dengan ARV, jadi pengobatan
harus direncanakan dengan hati-hati jika kita memiliki TB dan HIV
sekaligus. Penting dipahami bahwa semua obat TB harus dipakai untuk
jangka waktu sesuai perintah dokter.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar